Kami adalah

kami adalah pengabdi pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rabu, 01 Juli 2009

Jika Anak-Anak Hidup dengan . . . . . . . . .?


Inspirasi Pendidikan :
Ini saya posting dari tulisannya Bapak Wahidin ( dari Dorothy Law Nolte,1924 – 2005 ) tentang pendidikan untuk anak-anak.
Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasikan kita semua :
1. Jika anak-anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk.

2. Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.
3. Jika anak-anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
4. Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.
5. Jika anak-anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu.
6. Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri hati.
7. Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
8. Jika anak-anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri.
9. Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.
10. Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.
11. Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk cinta.
12. Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar seperti itu sendiri.
13. Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.
14. Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.
15. Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya.
16. Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
17. Jika anak-anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai.
18. Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
19. Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup

Dari: Inspirasi Bersama

Selasa, 30 Juni 2009

Sekolahku adalah Rumahku yang Kedua.


Semoga menjadikan Komitmen Kita bersama dalam menfasilitasi, mengkondisikan, memberdayakan sumber daya yang sudah ada untuk mewujudkan, menciptakan suatu kondisi, suasana yang menyenangkan, membahagiakan, penuh rasa aman, tentram, kerja sama,toleransi, saling menghormati, penuh persaudaraan, kepercayaan, sehingga semangat belajar siswa- siswi kita di sekolah semakin menggelora di dalam dada, antusias semakin menyala dalam melaksanakan tugas-tugas di sekolah, sehingga terwujudlah yang menjadi dambaan kita bersama :
1. Sekolahku adalah rumahku yang kedua.
2. Sekolahku adalah Surgaku
"Prestasi yang diharapkan akan mudah untuk di raih."
Dari: Inspirator

Senin, 29 Juni 2009

Indahnya Masa Kecil, makan rame-rame

Saat jam istirahat tiba yang ditandai dengan suara bunyi bel elektronik, anak-anak pada umumnya bergegas menuju ruang kantin. Berdesak-desakan itu pasti. Ramainya bukan main untuk urusan yang tidak dapat ditunda-tunda yaitu perut keroncongan dan dahaga. Merekapun makan rame-rame-bareng-bareng dengan asyiknya, tentunya bersama teman dan sahabat terdekatnya.

Pertanyaan yang menggelitik penulis :
  1. Sudahkah mereka memiliki kesadaran diri untuk menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan ?
  2. Sudahkan mereka memiliki kesadaran diri untuk mensyukuri nikmat/rejeki dengan berdoa sebelum dan sesudah makan ?
  3. Sudahkan mereka memiliki kesadaran diri untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya ?
  4. Sudahkan mereka memiliki kesadaran diri tentang etika dengan membayar dengan tangan kanan, ucapan terima kasih pada penjual, makan tidak bersuara, tidak tergesa-gesa dsb.
  5. Sudahkan mereka memiliki kesadaran diri tentang manfaat hidup sederhana, berhemat sejak kecil dengan sekali waktu membawa makanan buatan mamanya sendiri dan tidak terbiasa dengan minum-minuman kaleng seperti Fanta, Sprite, Coca cola.

Proses pembelajaran tidak hanya di dalam kelas. Di lingkungan sekolahpun merupakan bagian dari proses pembelajaran yang bersangkut paut dengan budi pekerti, pengembangan kepribadian, dan etika moral yang memang harus dibiasakan, dibina dari semenjak kecil ( Tk dan SD ).

Dari:Team Inspirator untuk semangat kemajuan.

Pemimpin Harus Memiliki Kemampuan Interpersonal


Dalam kehidupan ini banyak yang kita temui model para pemimpin, dari yang sifatnya yang resmi sampai tidak resmi, dari yang lokal sampai internasional, dari yang rendah sampai yang tinggi, dari yang amatir sampai yang Profesional, dari yang diakui sampai yang tidak diakui. Mereka para pemimpin ini bisa kita temui di kantor, di pabrik, di pemerintahan, di sekolah, di kampus, di pasar, di tempat ibadah, di setiap kegiatan,organisasi, dll. Profesi pemimpin itu sendiri memiliki jangka tertentu, ada yang menjalaninya secara singkat, ada yang lama, tergantung dari kondisi yang ia alami.Pada kehidupan sehari-hari pemimpin bisa dibagi dengan berbagai tipe, diantara sekian tipe yang sering kita temui adalah seperti tipe demokratis, otoriter, dinamis, ada yang tertutup, ada yang terbuka, ada yang urakan, dll.

Dari sekian banyak tipe yang kita ketahui setiap tipe pemimpin masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kenapa dikatakan memiliki kelemahan dan kelebihan?, karena diantara tipe-tipe itu boleh jadi bila ditetapkan ditempat atau masyarakat yang berlainan hasilnya bervariasi, boleh hasilnya bisa cocok bisa tidak. Hal seperti ini sepertinya sangat wajar mengingat masing-masing tempat dan masyarakat berbeda secara kondisi dan karakter. Oleh sebab itu dengan adanya kondisi seperti ini bisa jadi seorang pemimpin bisa gagal dan bisa sukses dalam menjalankan perannya. Bila berhasil tentu ia akan dikenang sebagai pemimpin yang cerdas dan berbakat, namun bila ia gagal tamatlah kariernya.Kegagalan beberapa orang pemimpin dalam menjalankan konsep-konsep kepemimpinannya seringkali disebabkan mereka sering melupakan faktor-faktor kondisi psikologis bawahan, tempat di mana mereka menjadi pemimpin, dan masyarakat. Seringkali seorang pemimpin itu tidak bisa menempatkan dirinya secara baik terhadap bawahan atau masyarakat yang dipimpinnya. Banyak dari pemimpin tersebut kadang-kadang tidak menyadari bahwa dirinya seorang pemimpin : misalnya banyak para pemimpin kita tidak bisa membedakan mana kepentingan pribadi mana kepentingan umum. Kadang seorang pemimpin yang harusnya bisa menjaga sikap justru sering menjadikan dirinya contoh yang buruk. Banyak dari pemimpin tersebut yang harusnya menjadi panutan justru dibenci oleh para bawahannya. Diantara hal yang dibenci itu misalnya tidak sesuainya antara apa yang dibicarakannya dengan kenyataan yang ada. Dengan kehadirannya terkadang kondisi yang tadinya kondusif menjadi tidak kondusif, contoh kasus misalnya: Pada suatu perusahaan besar, ada seorang manager yang tidak puas dengan kinerja bawahannya, namun anehnya si manager tidak pernah menegur si bawahan tersebut, yang terjadi justru si manager menceritakan kelemahan bawahannya kepada rekan-rekan bawahan tersebut. Parahnya lagi sikap seperti ini sering ia lakukan pada forum-forum yang tidak resmi, padahal dalam forum resmi saja apalagi dalam dunia kerja untuk menceritakan kelemahan seseorang sangatlah tidak beretika dan berakhlak. Dengan sikap si manager tersebut , terlihat sekali bahwa ia tidak bisa dijadikan contoh sebagai pemimpin yang baik. Sikap pemimpin seperti dapat dinilai dengan nol besar. Seharusnya jika tidak puas dengan kinerja bawahannya, ia bisa memanggilnya, selanjutnya ia bisa menegur dan memberikan pembinaan kepersonaliaan agar si bawahan tersebut SDMnya dapat meningkat. Dengan kasus seperti ini Si manager telah melupakan beberapa hal. Pertama , Si manager tidak pernah berfikir panjang akibat prilakunya ini. Kedua seandainya si bawahan tersebut mengetahui perbuatan si manager bukankah justru ini akan menciptakan masalah baru yaitu si bawahan makin merasa tidak nyaman karena dirinya sebagai manusia sama sekali tidak dihargai.Ketiga, si manager yang harusnya menutupi kelemahan anak buahnya pada orang lain justru ia malah mengobralnya tanpa pandang bulu. Keempat Si manager yang harusnya melindungi anak buahnya justru malah mencelakannya. Kelima simanager yang harusnya menjadi pengayom justru menjadi perusuh. Keenam dengan adanya prilaku si manager tersebut bukan tidak mungkin rekan-rekan sibawahan tersebut akan memandang ”lain” terhadap image si bawahan tersebut.

Belajar dari kasus diatas, ternyata menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah. Ada hal-hal yang memang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya tidak hanya pandai dibidang administrasi saja, atau organisasi saja, atau keuangan saja, atau pandai berbicara saja, tapi juga harus kompeten dalam kemampuan interpersonalnya. Semoga dengan tulisan yang sederhana ini bagi Anda calon pemimpin masa depan mudah-mudahan mampu bertindak dan berperilaku layaknya seorang pemimpin sejati.

Saya merasa gemes melihat fhoto-fhoto teman jaman dulu, lucu dan membuat saya tertawa.
Makanya saya juga pengen menulis di blog guru ypk ini. Dari Mbak Pikah sing Ayu dhewe.
Untuk team Inspirator tulis terus yaaa ? Biar makin tambah hidup blog guru ypk.

Minggu, 28 Juni 2009

Figur yang Ngayomi


" SELAMAT YA, MENDAPATKAN JUARA 1. BELAJAR YANG LEBIH RAJIN LAGI."
"MAKASIH PAK."