Kami adalah

kami adalah pengabdi pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rabu, 18 Maret 2009


KITA HARUS BERGERAK CEPAT
(Putar Otak, Peras Keringat, dan Kencangkan Ikat Pinggang).
Kita bukan lagi di era 80 an. Juga Bukan di tahun 90 an. Kita mengawali Tahun pelajaran 2009-2010 dengan penuh kecemasan, kekhawatiran, dan seakan tidak berdaya. Perubahan demi perubahan sudah di depan mata kita. Harapan, tuntutan, sekaligus tantangan sudah mulai menghantui kehidupan dan masa depan.. Tentu kita semua tidak ada yang berharap kita kembali ke jaman batu (kesusahan). Kita semua berkepentingan (guru, karyawan , dan pimpinan) memelihara denyut nadi di lembaga ini untuk tetap hidup, lebih terhormat dan bermartabat di mata masyarakat. Semua guru, karyawan, Korps, dan manajemen lembaga harus bersinergi, menjaga kekompakan, menggalang kebersamaan, dan keterbukaan (transparansi). Manajemen harus putar otak untuk mengembangkan program-program sekolah yang terasa manfaatnya oleh siswa dan orangtua, peras keringat bersatu padu tingkatkan pelayanan sekolah yang lebih bermutu, dan kencangkan ikat pinggang melalui penghematan anggaran di segala bidang keperluan, dari masalah yang paling kecil pemakaian kertas, listrik, pelatihan, batasi studi banding, meminimalkan perekutan, evaluasi program-program sekolah , sampai pada kesadaran menghemat biaya rumah sakit (pilek, pusing, mual, mampirlah di toko obat untuk mencoba bodrek, konimex atau influenza ).
Tahun pelajaran baru 2009-2010 ini kita memulai memasuki Jaman Baru di lembaga ini dengan berbagai macam kebijakan baru yang tidak perlu kami sebutkan di sini. Peningkatan biaya pendidikan harus dibarengi dengan “Peningkatan Pelayanan” di seluruh unit kerja, program-program sekolah harus benar-benar bermutu (melibatkan peran serta orangtua) dan dapat dirasakan langsung oleh siswa dan orangtua di masyarakat. Program ini harus dapat direalisasikan menjelang tahun pelajaran 2009-2010 ini untuk mereduksi/mengimbangi implikasi dari kenaikan biaya pendidikan di lembaga ini.
Usulan-usulan yang dapat kami tawarkan kepada manajemen di lembaga ini adalah sebagai berikut :

1. PERPUSTAKAAN KELILING ( Mobil minibus / bus kecil yang dimodifikasi ).
a. Menumbuhkan minat baca siswa dan orangtua siswa.
b.Optimalisasi penggunaan/pemanfaatan buku-buku perpustakaan yang dapat dirasakan langsung oleh siswa dan orangtua .
c. Sebagai sarana informasi dan promosi YPK (informasi kegiatan-kegiatan sekolah dan promosi prestasi siswa dan sekolah dari waktu ke waktu.
d. Orangtua dapat menyampaikan pesan, titipan, bayar SPP, dan masukan/ aspirasi bagi sekolah melalui petugas layanan mobil perpustakaan keliling ini.
e. Sekolah akan memberikan reward/penghargaan kepada siswa dan orangtua yang rajin berkunjung, meminjam buku-buku diperpustakaan keliling ini dengan hadiah yang menggiurkan misalnya, bukui, televisi, barang elektroniik bahkan hadiah sepeda motor ( dana dari sponsor).
f. Petugas layanan juga menjual makanan dan minuman ringan (untuk menarik minat).
g. Informasi-informasi sekolah dapat di sampaikan lewat layanan ini.
h. Areal yang dilewati mobil perpustakaan keliling sesuai dengan jadwal ( area PC VI, BTN 1 ,2, dan 3, BSD dsb ).
i. Waktu pelayanan di sesuaikan dengan kondisi dan keperluan , misalnya sore jam 14.00 s.d 17.30. Hari sabtu dan minggu jam 09.00 s.d 16.00.


· Usulan tersebut perlu dikaji lebih mendalam oleh orang-orang yang kompeten di lembaga ini termasuk dari segi kelebihan dan kerugiannya ).
· Setidaknya kita harus berani untuk mencoba. Jangan takut gagal. Sekarang jamannya inovasi baru, bukan sekedar teori melulu.

2. MEMBUKA KLINIK PENDIDIKAN / BIMBINGAN BELAJAR GRATIS DI LINGKUNGAN BTN / BSD ( rumah singgah )
a. Di area perumaham BTN, BSD banyak sekali bermunculan tempat-tempat les atau bimbingan belajar. Penomena ini harus segera kita tangkap dengan memberikan suatu layanan yang sifatnya Misi Sosial Lembaga (MSL) yang dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh siswa dan orangtua. Selain itu sebagai sarana informasi, transparansi antara kepentingan sekolah dan harapan, keinginan sebagian besar para orangtua terhadap lembaga ini.
b. Rumah singgah yang dapat kita manfaatkan adalah rumah-rumah milik lembaga ini yang berada di arena BSD.
c. Kita dapat menguji coba dengan memanfaatkan 1 rumah untuk digunakan sebagai rumah singgah untuk digunakan sebagai taman bimbingan belajar GRATIS untuk siswa kelas SD. Idealnya kita dapat membuka 3 rumah singgah untuk siswa SD, SMP, dan SMA lembaga.
d. Di dalam rumah singgah ini selain bimbingan belajar bidang studi yang disesuaikan dengan jadwal juga ada layanan tes psikologi , tes pemahaman diri (tidak standar), konsultasi akademis, internet gratis, juga membuka kantin kejujuran.
e. Petugasnya adalah guru-guru internal YPK yang rela, bersedia untuk memberikan bimbingan dengan perhitungan upah dapat kita kaji lebih mendalam.
f. Agar tidak membebani anggaran lembaga, kita dapat memikirkan kegiatan social ini dengan membuat proposal anggarana kepada perusahaan di lingkungan PKT, seperti, KMI, KPI, dan swasta (sponsor ).
g. Adapun kegiatan dari masing-masing rumah singgah (istilahnya klinik pendidikan / taman bimbingan belajar lembaga atau sebagainya adalah :
1. Taman bimbingan belajar tingkat TK – SD :
a. Kelas sempoa , aritmetika ( TK & SD kelas rendah )
b. Kelas mmbaca menulis permulaan (TK A dan TK B dan SD kelas 1)
c. Kelas matematika
d. Kelas IPA
e. Kelas bahasa Inggris
f. Kelas UMUM dsb.
· Kondisi belajarnya adalah semacam tutor sebaya yang dikendalikan, atau dibimbing oleh guru bidang studi.
· Disuaikan dengan jumlah peminat dan tingkatan kelas.
· Masing-masing kelas dilakukan seminggu sekali dsb.

2. Taman bimbingan belajar tingkat SMP :
a. Kelas matematika
b. Kelas IPA
c. Kelas IPS
d. Kelas Bahasa Inggris
e. Kelas umum dsb.
f. Disesuaikan dengan kebutuhan .

3. Taman bimbingan belajar tingkat SMA :
a. Kelas Matematika
b. kelas IPA
c. Kelas IPS. Dsb
d. Disesuaikan dengan kebutuhan.



3. PAPAN REKLAME PRESTASI SEKOLAH.
a. Dipajang di dalam atau di depan koperasi PKT, depan SD-1 dan depan SD-2 tepatnya dipinggir jalan besar secara semi permanent.
b. Prestasi sekolah dari masing-masing unit kerja dari mulai tahun pelajaran baru 2009-2010 sampai tahun pelajaran berikutnya ( 1 tahun terus menerus). Juga informasi-informasi penting sekolah semacam perlombaan sekolah, HUT YPK dsb.
c. Perlu ditangani secara khusus ( semacam team marketing ).

4. PRESENTASI DAN EVALUASI PROGRAM-PROGRAM SEKOLAH SECARA TERBUKA UNTUK MENGHADAPI TAHUN PELAJARAN BARU 2009-2010 ( dalam upaya untuk mencari masukan).
a. Presentasi dilakukan kepala sekolah dan wakilnya yang terbuka untuk umum (dilakukan di gedung pertemuan YPK )
b. Tujuannya untuk menggali segala masukan yang mungkin selama ini belum pernah terpikirkan .
c. Program –program sekolah harus dilaksanakan secara terpadu dan banyak melibatkan orangtua murid di dalammya ( contoh program unggulan SD sangat sesuai dengan kondisi sekarang adalah pentas seni di GOR dan Marching Band SD-2 ) yang banyak melibatkan banyak potensi dan orang tua di dalamnya (biaya dan tenaga ).
d. Optimalisasi pelayanan program-program yang sudah berjalan seperti kelas Model dengan guru yang benar-benar pilihan ( humanis, terbuka dan familier terhadap orangtua siswa) dan kelas akselerasi ( mengembangkan program pemahaman/pengembangan diri lewat ekstarkurikuler terpadu dan lebih meminimalkan kesan seakan-akan hanya memadatkan materi ).* biaya kedua program tersebut mahal jadi pelayanannya juga harus all out.

5. MEMBUKA KELAS TERPADU DI SD, SMP, DAN SMA ( MENGADOPSI KURIKULUM MADRASAH ).
a. Model pembayaran administrasi seperti kelas model.
b. Menambah kurikulum madrasah ( 3 bidang studi ).
c. Optimalisasi kecerdasan spiritual
d. Mewadahi harapan sebagian orangtua yang menginginkan putra-putrinya memiliki pemahaman agama yang lebih.
e.

6. MEMBUAT KONTRAK KOMITMEN (PENJAMINAN MUTU ) KEPADA ORANGTUA SISWA BARU (seluruh unit sekolah ).
a. Kegiatan ini dapat dilakukan saat masa orientasi/ sosialisasi kepada orangtua siswa baru.
b. Dalam kontrak komitmen ini juga akan mencantumkan komitmen pengawasan/bimbingan orangtua di rumah untuk mendukung peningkatan prestasi belajar siswa di sekolah.
c. Tujuannya untuk menyakinkan orangtua tentang keseriusan lembaga ini dalam mendidik/membimbing putra-putrinya di sekolah ini.
d. Dampak yang diharapkan orangtua semakin yakin, puas, dan semakin tumbuh kepercayaan pada lembaga ini.



DARI : SUPRIHOU SD.

Rabu, 11 Maret 2009

YPK non YPK

Sodara-sodara…
Siapa yang tidak kenal dengan sosok lelaki yang
Memiliki tingg 170 cm, yang memiliki hobi mancing, bahkan ada yang menyebut mancing bukan hobinya tapi “Sumber penghidupannya”.
Wong orang buta dan tuli sekalipun kalo ditanya tentang orang tersebut langsung TAHU, Pak Aripin sang “penguasa” sekolahan dan sebagai JURU KUNCI-nya. Intinya pria satu ini sudah menyatu padu dengan YPK, seandainya dibacokpun darahnya akan mencucur dan membentuk kata YPK-YPK-YPK….
Tapi apa yang terjadi, Sodara-sodara…
Ketika lelaki ini memiliki momongan setelah menanti sekian lamanya, anak itu kini sudah masuk usia TK dan Pak Aripin ingin sekali sang buah hatinya sekolah di TK di YPK biar bisa berkembang tidak kuper, tdak gaptek, ahli sains dll. Berjuta cita dibenak dan angannya.
TAPI…
Ketika dia menanyakan ke tukang pendaftaran ternyata biayanya mencapai 5 juta lebih karena dianggap bukan/non karyawan YPK.
SOTARA-SOTARA…
Alangkah dunia ini full dengan kezdoliman, ketidak adilan dan carut marutnya birokrasi.

Senin, 02 Maret 2009

Kalo Preman Melayat

Alkisah.... ada seorang preman yang mati karena kebanyakan minum minuman keras di lokalisasi.. .sehingga dalam penguburannya tidak ada yang mengantar kecuali keluarganya yang semuanya juga preman dan penjahat..Sahabat karib preman yang mati tersebut juga ikut mengantar ke kuburanwalaupun dalam keadaan mabuk berat..Waktu diturunkan ke dalam kuburan, sang sahabat turun ke dalam lubang kuburan untuk menerima mayat temannya, kemudian dengan sedih diamengatakan kalimat perpisahan.. ....." Jack...sssooorry, gue kagak bisa ngazanin elo.., gue lagi fly beraaat neh...Cuman gue pesen aja ama elo, kayak yang diajarin ustadz waktu kite masih kecil dulu...elo dengerin yang bener...., 'ntar kalo kite-kite yang nganter udah pergi dari sini,bakalan ada malaikat yang dateng nanyain elo, kalo kagak salah ada tiga pertanyaan.. ....""Pertanyaan pertama, kalo die nanya siape Tuhan lo,elo jawab aje..... Allah...""Pertanyaan kedua kalo kagak salah, die bakal nanya siape nabi lo..,elo jawab aje.. Muhammad.... biar elo kagak lupa..., inget aja si mamadyang baru kita gebukin kemaren....""Pertanyaan ketiga...... ., (bengong lama sambil megangin jidat),...aduh, sorry banget Jack...., gue kagak bisa inget pertanyaan yang ketiga...tapi gini aje.. kalo elo udah jawab dua pertanyaan dan die masih nanya yang macem-macem, lo hajar aje die!!! abis perkara..... ..."
Yoes'09

Kamis, 26 Februari 2009

Sukses Adalah Sebuah Pilihan

Kita bebas memilih apapun, tapi,...


Suatu hari anak saya memilih beberapa jenis permainan puzzle, semacam permainan menggabung-gabungkan potongan-potongan gambar. Anak saya kemudian memilih jenis puzzle yang terdiri dari 1.000 keping potongan gambar. Setelah menentukan pilihan, mulailah ia melaksanakan langkah-langkah menyusun keping demi keping puzzle.

Rupanya ia mempunyai strategi menyusun kepingan-kepingan gambar itu. Mula-mula ia membuat kerangka gambar. Kemudian ia mengelompokkan kepingan-kepingan itu berdasarkan warnanya. setelah itu barulah ia menyusun atau meletakkan kepingan-kepingan tersebut pada tempat yang semestinya.
Semakin banyak kepingan permainan itu, maka akan semakin sulit dikerjakan. Sebenarnya ia bisa saja memilih jenis permainan puzzle yang terdiri dari 5 keping, 6, keping dan seterusnya. Tetapi anak saya sengaja memilih permainan yang terdiri dari ribuan keping. Ia beralasan bahwa semakin sulit permainan akan menghasilkan gambar yang lebih berwarna, bernuansa indah, dan lain sebagainya.

Selain memperhatikan anak saya bekerja menyusun potongan gambar itu, saya juga sibuk berpikir. Jika tanggung jawab hidup semakin besar, mungkin kehidupan ini terasa lebih berat. Namun bila tanggung jawab tersebut dapat diselesaikan dengan baik, maka kehidupan inipun akan terasa lebih berarti, menyenangkan, berwarna dan nikmat.

Hakekat pencapaian kesuksesanpun tidak berbeda. Sama seperti yang dikatakan oleh Dwight D. Eisenhower. “The history of free men is never written by chance but by choice, their choice. – Sejarah seorang manusia merdeka tidak pernah tercipta secara kebetulan, melainkan tercipta karena pilihan mereka sendiri,” katanya. Hakekat kesuksesan adalah pilihan kita sendiri.
Terserah diri kita, akan memilih tanggung jawab hidup yang lebih besar ataukah sedikit? Jika mengambil tanggung jawab yang besar, maka kehidupan akan terasa lebih sulit tetapi mendapatkan nilai hidup yang lebih besar. Apakah kita ingin mendapatkan kehidupan yang sukses dan berharga? Jika Anda benar-benar menginginkannya, ada empat tanggung jawab yang paling mendasar dan menjamin keberhasilan Anda.

Tanggung jawab yang pertama adalah bersikap jujur. Orang-orang yang tulus dan jujur sangat mudah meraih kesuksesan bagi dirinya sendiri sekaligus orang lain. Mengapa demikian? Karena sikap jujur menjadikan kita mudah dipercaya orang lain. Selain itu, kita juga akan semakin percaya diri berusaha mencapai sukses di masa depan. Sebuah pepatah bijak mengatakan, “Confidence is the companion of success. – Percaya diri merupakan pasangan dari kesuksesan.”

Tanggung jawab selanjutnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sukses dan bermakna adalah kemauan untuk berbagi dengan orang lain. Sadari satu prinsip bahwa ‘you reap what you sow’ – Anda akan memanen apa yang Anda tanam. Jika Anda memilih untuk hidup lebih sukses, maka jangan pernah membiarkan diri Anda pelit untuk berbagi dengan sesama.
“False happiness renders men stern and proud, and that happiness is never communicated. True happiness renders kind and sensible, and that happiness is always shared. – Kebahagiaan semu cenderung menjadikan seseorang kejam dan sombong, dan kebahagiaan seperti itu tidak akan pernah berarti. Kebahagiaan yang sesungguhnya menjadikan seseorang baik hati dan peka, dan kebahagiaan seperti itu yang akan sangat berharga dan bermakna tidak saja untuk diri sendiri,” kata Charles de Montesquieu.

Jika Anda berkeras untuk memilih kehidupan yang lebih sukses, maka tanggung jawab yang harus Anda laksanakan berikutnya adalah giat bekerja. Sejarah lebih banyak membeberkan fakta bahwa upaya yang bersungguh-sungguh selalu mewarnai dinamika kehidupan mayoritas orang-orang sukses di dunia ini. Bila Anda berkomitmen untuk bekerja keras berarti Anda sudah memastikan pada pilihan kehidupan yang lebih sukses.


Giat dalam arti mengerjakan pekerjaan yang benar, bukan pekerjaan yang kita sukai. Socrates mengatakan bahwa sesuatu yang sangat berharga bukan hal yang hanya bisa kita gunakan untuk hidup, melainkan untuk hidup dengan benar. “What most counts is not to live, but to live aright,” katanya. Bila Anda memilih untuk melakukan hal-hal yang benar, berarti Anda sudah memilih kehidupan yang sukses dan penuh integritas. Sukses atau gagal adalah hasil dari apa yang kita pilih. “Events, circumstances, etc., have their origin in ourselves. They spring from seeds which we have sown. – Setiap kejadian, keadaan yang sedang kita alami, dan lain sebaginya…, kembali kepada diri kita sendiri. Semua itu berasal dari benih yang sudah kita tanam,” kata Henry David Thoreau. Apakah Anda memilih untuk hidup sukses, bahagia, dan bermakna dengan melaksanakan tanggung jawab seperti yang diuraikan diatas, ataukah sebaliknya? Semua pilihan ada di tangan Anda sendiri

Admin, yang pernah mbecak

 

Rabu, 25 Februari 2009

Kita Jaman Sekarang


Dalam teori Motivasi, Abraham Maslow, menyatakan :
Manusia mempunyai 5 tingkat kebutuhan dalam hidupnya, dari tingkat yang paling rendah yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa Aman, kebutuhan Sosial, kebutuhan akan Harga Diri, dan yang paling tinggi adalah kebutuhan Aktualisasi Diri.
Seseorang bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk sekedar bisa makan setiap hari, bisa mencicil kredit rumah, kredit motor, koperasi kantor, bayar listrik dan telepon. Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipenuhi dengan pemilikan uang yaitu dengan bekerja. Bekerja membuat kita menghargai hidup. Tanpa bekerja , akan sulit untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan justru menjadi parasit bagi orang-orang terdekatnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang telah mempunyai harta atau warisan yang mencukupi tujuh keturunannya atau berhasil dalam bisnisnya di masyarakat ? Kebutuhan fisiologis barangkali-mungkin tidak lagi menjadi motivasi dalam bekerjanya. Dampaknya yang sering terjadi adalah semangat kerja menurun, loyalitas berkurang, kedisiplinan kendor dsb. Karena merasa ada sesuatu yang bisa disombongkan atau dibanggakan yaitu rasa aman secara financial (kebutuhan harga diri ), tidak was-was, khawatir, atau takut terkena gusuran (PHK).

Mencari prestise memang penting. Namun tidak semua orang bisa mendapatkan pretise yang tinggi. Karena apapun pekerjaan kita saat ini (baca : profesi guru), yang terpenting adalah memaknai pekerjaan itu sendiri. Jika kita larut terbawa arus mencari pekerjaan, ambisi mengejar jabatan yang mempunyai prestise tinggi (baca: gaji besar), tetapi tidak mempertimbangkan secara mendalam kemampuan diri dan alasan memilih pekerjaan itu, yang terjadi adalah kita tidak bisa menikmati pekerjaan baru itu . Banyak pula yang melakukan pekerjaan tanpa memandang prestise pekerjaan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan bathiniah, yang dirasakan lebih penting dari pada prestise ( seperti yang diyakini saat ini oleh Bapak Ahmad Riway dari artikel yang pernah ditulisnya diblog ini ). Hal tersebut didasarkan kepada kecintaannya pada bidang yang ditekuninya sekarang ini (profesi guru ), sehingga tawaran demi tawaran dengan gaji berlipatpun beliau tolak, Mooh ! Dan mungkin harta bukan hal yang wah lagi bagi beliau. Aneh dan langka khan ? Makanya perlu untuk dilindungi dari ancaman kepunahan.

Kebahagiaan memang dapat dikatakan subyektif. Apa yang kita rasakan saat ini menurut kita membahagiakan, mungkin dinilai beda oleh orang lain. Banyak orang merasa bahwa hidup bahagia adalah hidup yang berkecukupan: rumah bagus, mobil mewah, tanah luas, usaha sukses. Sebagian lain merasa bahagia jika dapat menghantarkan anak-anaknya kuliah sukses di Perguruan Tinggi dan terbebas dari utang (hidup dari uang pensiunan). Amat sederhana, seorang gelandangan pun mungkin sudah merasa bahagia saat ia dapat membeli sebungkus nasi dan dapat kaplingan tidur malam hari di emperan toko. Kebahagiaan tidak melulu diukur dengan materi,namun tidak dapat dipungkiri bahwa materi berperan dalam menentukan kebahagiaan.

Lalu bagaimana dengan kawan kita yang migrasi ke institusi negara ? Kami ucapkan selamat, dan penghargaan atas keputusan tersulit yang telah diambil. Kami dapat memahami ada sesuatu yang berat sebenarnya untuk meninggalkan lembaga ini, tetapi karena ada kekuatan yang lebih besar lagi, maka keputusan yang tersulitpun menjadi pilihan terbaiknya. Kekuatan untuk mencari kepastian dari ketidakpastian, mencari ketenangan dari kebimbangan, mencari tantangan . . . . patut untuk kita hargai. Kita semua mengalaminya kondisi yang seperti ini, serba tidak menentu. Terkadang muncul kecemasan, kebimbangan, kebingungan, yang merupakan tantangan yang mau tidak mau harus kita hadapi bersama.

Kami yakin Kawan Kita yang migrasi bukan karena materi ? Bicara financial sifatnya Subyektif. Intinya adalah mencari kepastian (jaminan) dan motivasinya adalah kebutuhan rasa aman, menurut Abraham Maslow di atas). Sekolah milik negara tentu akan terjamin kepastiannya, dan mengabdi menjadi Guru Anak Negri. Berbeda dengan Kita yang masih setia kepada lembaga ini yang merupakan Guru Anak Perusahaan dan bukan Guru Anak Negri. Karena di perusahaan besar inilah anak perusahaan dilahirkan untuk memanjakan karyawan : Mendidik, membimbing, memintarkan, memanusiakan manusia hingga menjadi manusia yang berguna bagi orangtuanya, berhasil bagi diri sendiri (kebutuhan akan harga diri), dan sukses di masyarakat menjadi orang terpandang (prestise – aktualisasi diri ). Kita para guru dengan pengabdian panjang ( sewindu, dwi windu, tri windu, sampai ada yang ajal tiba saat pengabdiannya, dan pensiun ) setia tanpa mengenal lelah sampai tak terasa rambut beruban, gigi berkurang, mata remang-remang, meninggalkan kedua orangtua jauh di kampung halaman : hanya untuk mengabdi, berbakti sampai purna bakti untuk anak perusahaan (lembaga ini ) yang telah menyangga Kami (para guru ) sehingga kebutuhan fisiologis kami tercukupi , kebutuhan sosial kami terlayani, kebutuhan harga diri kami termanfaatkan, dan kebutuhan aktualisasi diri kami tersalurkan.

Bertahun-tahun lamanya ( 26 tahun ) kebutuhan rasa aman kita banggakan, yang berbuah pada kenyamanan. Dan kini seakan kita tergagap, seakan bangun dari mimpi panjang. Seakan tidak percaya, hilang kepercayaan, timbul kebimbangan, dan akhirnya hanya bisa diam- pasrah untuk menunggu kenyataan untuk 5 tahun mendatang. Kita berharap mudah-mudahan kebimbangan itu cepat berlalu, sehingga tidak ada lagi kawan yang migrasi menjadi Guru Anak Negri. Kekuatan kami hanya pada kebanggaan diri memelihara profesi ( kebutuhan akan harga diri) , memelihara kekompakan (kebutuhan sosial), pertahankan loyalitas pada lembaga (kebutuhan aktualisasi diri), optimisme (kebutuhan rasa aman), membuang jauh kebimbangan ( kebutuhan fisiologis). Berusaha untuk yakinkan diri , menghibur diri..” Optimisme. Dan berharap Guru Anak Perusahaan ini tetaplah menjadi yang terbaik, pilihan Kita mengabdi, pilihan Kita bersandar, pilihan Kita mencari Kemuliaan (pahala), hingga Kita tetap bangga sampai pensiun tiba. Amin.

SUPRIHOUYA..