Sodara-sodara…
Siapa yang tidak kenal dengan sosok lelaki yang
Memiliki tingg 170 cm, yang memiliki hobi mancing, bahkan ada yang menyebut mancing bukan hobinya tapi “Sumber penghidupannya”.
Wong orang buta dan tuli sekalipun kalo ditanya tentang orang tersebut langsung TAHU, Pak Aripin sang “penguasa” sekolahan dan sebagai JURU KUNCI-nya. Intinya pria satu ini sudah menyatu padu dengan YPK, seandainya dibacokpun darahnya akan mencucur dan membentuk kata YPK-YPK-YPK….
Tapi apa yang terjadi, Sodara-sodara…
Ketika lelaki ini memiliki momongan setelah menanti sekian lamanya, anak itu kini sudah masuk usia TK dan Pak Aripin ingin sekali sang buah hatinya sekolah di TK di YPK biar bisa berkembang tidak kuper, tdak gaptek, ahli sains dll. Berjuta cita dibenak dan angannya.
TAPI…
Ketika dia menanyakan ke tukang pendaftaran ternyata biayanya mencapai 5 juta lebih karena dianggap bukan/non karyawan YPK.
SOTARA-SOTARA…
Alangkah dunia ini full dengan kezdoliman, ketidak adilan dan carut marutnya birokrasi.
Kami adalah
- PEACE YPK
- kami adalah pengabdi pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Rabu, 11 Maret 2009
Senin, 02 Maret 2009
Kalo Preman Melayat
Alkisah.... ada seorang preman yang mati karena kebanyakan minum minuman keras di lokalisasi.. .sehingga dalam penguburannya tidak ada yang mengantar kecuali keluarganya yang semuanya juga preman dan penjahat..Sahabat karib preman yang mati tersebut juga ikut mengantar ke kuburanwalaupun dalam keadaan mabuk berat..Waktu diturunkan ke dalam kuburan, sang sahabat turun ke dalam lubang kuburan untuk menerima mayat temannya, kemudian dengan sedih diamengatakan kalimat perpisahan.. ....." Jack...sssooorry, gue kagak bisa ngazanin elo.., gue lagi fly beraaat neh...Cuman gue pesen aja ama elo, kayak yang diajarin ustadz waktu kite masih kecil dulu...elo dengerin yang bener...., 'ntar kalo kite-kite yang nganter udah pergi dari sini,bakalan ada malaikat yang dateng nanyain elo, kalo kagak salah ada tiga pertanyaan.. ....""Pertanyaan pertama, kalo die nanya siape Tuhan lo,elo jawab aje..... Allah...""Pertanyaan kedua kalo kagak salah, die bakal nanya siape nabi lo..,elo jawab aje.. Muhammad.... biar elo kagak lupa..., inget aja si mamadyang baru kita gebukin kemaren....""Pertanyaan ketiga...... ., (bengong lama sambil megangin jidat),...aduh, sorry banget Jack...., gue kagak bisa inget pertanyaan yang ketiga...tapi gini aje.. kalo elo udah jawab dua pertanyaan dan die masih nanya yang macem-macem, lo hajar aje die!!! abis perkara..... ..."
Yoes'09
Yoes'09
Kamis, 26 Februari 2009
Sukses Adalah Sebuah Pilihan
Kita bebas memilih apapun, tapi,... Suatu hari anak saya memilih beberapa jenis permainan puzzle, semacam permainan menggabung-gabungkan potongan-potongan gambar. Anak saya kemudian memilih jenis puzzle yang terdiri dari 1.000 keping potongan gambar. Setelah menentukan pilihan, mulailah ia melaksanakan langkah-langkah menyusun keping demi keping puzzle.
Rupanya ia mempunyai strategi menyusun kepingan-kepingan gambar itu. Mula-mula ia membuat kerangka gambar. Kemudian ia mengelompokkan kepingan-kepingan itu berdasarkan warnanya. setelah itu barulah ia menyusun atau meletakkan kepingan-kepingan tersebut pada tempat yang semestinya.
Semakin banyak kepingan permainan itu, maka akan semakin sulit dikerjakan. Sebenarnya ia bisa saja memilih jenis permainan puzzle yang terdiri dari 5 keping, 6, keping dan seterusnya. Tetapi anak saya sengaja memilih permainan yang terdiri dari ribuan keping. Ia beralasan bahwa semakin sulit permainan akan menghasilkan gambar yang lebih berwarna, bernuansa indah, dan lain sebagainya.
Selain memperhatikan anak saya bekerja menyusun potongan gambar itu, saya juga sibuk berpikir. Jika tanggung jawab hidup semakin besar, mungkin kehidupan ini terasa lebih berat. Namun bila tanggung jawab tersebut dapat diselesaikan dengan baik, maka kehidupan inipun akan terasa lebih berarti, menyenangkan, berwarna dan nikmat.
Hakekat pencapaian kesuksesanpun tidak berbeda. Sama seperti yang dikatakan oleh Dwight D. Eisenhower. “The history of free men is never written by chance but by choice, their choice. – Sejarah seorang manusia merdeka tidak pernah tercipta secara kebetulan, melainkan tercipta karena pilihan mereka sendiri,” katanya. Hakekat kesuksesan adalah pilihan kita sendiri.
Terserah diri kita, akan memilih tanggung jawab hidup yang lebih besar ataukah sedikit? Jika mengambil tanggung jawab yang besar, maka kehidupan akan terasa lebih sulit tetapi mendapatkan nilai hidup yang lebih besar. Apakah kita ingin mendapatkan kehidupan yang sukses dan berharga? Jika Anda benar-benar menginginkannya, ada empat tanggung jawab yang paling mendasar dan menjamin keberhasilan Anda.
Tanggung jawab yang pertama adalah bersikap jujur. Orang-orang yang tulus dan jujur sangat mudah meraih kesuksesan bagi dirinya sendiri sekaligus orang lain. Mengapa demikian? Karena sikap jujur menjadikan kita mudah dipercaya orang lain. Selain itu, kita juga akan semakin percaya diri berusaha mencapai sukses di masa depan. Sebuah pepatah bijak mengatakan, “Confidence is the companion of success. – Percaya diri merupakan pasangan dari kesuksesan.”
Tanggung jawab selanjutnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sukses dan bermakna adalah kemauan untuk berbagi dengan orang lain. Sadari satu prinsip bahwa ‘you reap what you sow’ – Anda akan memanen apa yang Anda tanam. Jika Anda memilih untuk hidup lebih sukses, maka jangan pernah membiarkan diri Anda pelit untuk berbagi dengan sesama.
“False happiness renders men stern and proud, and that happiness is never communicated. True happiness renders kind and sensible, and that happiness is always shared. – Kebahagiaan semu cenderung menjadikan seseorang kejam dan sombong, dan kebahagiaan seperti itu tidak akan pernah berarti. Kebahagiaan yang sesungguhnya menjadikan seseorang baik hati dan peka, dan kebahagiaan seperti itu yang akan sangat berharga dan bermakna tidak saja untuk diri sendiri,” kata Charles de Montesquieu.
Jika Anda berkeras untuk memilih kehidupan yang lebih sukses, maka tanggung jawab yang harus Anda laksanakan berikutnya adalah giat bekerja. Sejarah lebih banyak membeberkan fakta bahwa upaya yang bersungguh-sungguh selalu mewarnai dinamika kehidupan mayoritas orang-orang sukses di dunia ini. Bila Anda berkomitmen untuk bekerja keras berarti Anda sudah memastikan pada pilihan kehidupan yang lebih sukses.
Giat dalam arti mengerjakan pekerjaan yang benar, bukan pekerjaan yang kita sukai. Socrates mengatakan bahwa sesuatu yang sangat berharga bukan hal yang hanya bisa kita gunakan untuk hidup, melainkan untuk hidup dengan benar. “What most counts is not to live, but to live aright,” katanya. Bila Anda memilih untuk melakukan hal-hal yang benar, berarti Anda sudah memilih kehidupan yang sukses dan penuh integritas. Sukses atau gagal adalah hasil dari apa yang kita pilih. “Events, circumstances, etc., have their origin in ourselves. They spring from seeds which we have sown. – Setiap kejadian, keadaan yang sedang kita alami, dan lain sebaginya…, kembali kepada diri kita sendiri. Semua itu berasal dari benih yang sudah kita tanam,” kata Henry David Thoreau. Apakah Anda memilih untuk hidup sukses, bahagia, dan bermakna dengan melaksanakan tanggung jawab seperti yang diuraikan diatas, ataukah sebaliknya? Semua pilihan ada di tangan Anda sendiri
Admin, yang pernah mbecak
Rabu, 25 Februari 2009
Kita Jaman Sekarang

Dalam teori Motivasi, Abraham Maslow, menyatakan :
Manusia mempunyai 5 tingkat kebutuhan dalam hidupnya, dari tingkat yang paling rendah yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa Aman, kebutuhan Sosial, kebutuhan akan Harga Diri, dan yang paling tinggi adalah kebutuhan Aktualisasi Diri.
Seseorang bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk sekedar bisa makan setiap hari, bisa mencicil kredit rumah, kredit motor, koperasi kantor, bayar listrik dan telepon. Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipenuhi dengan pemilikan uang yaitu dengan bekerja. Bekerja membuat kita menghargai hidup. Tanpa bekerja , akan sulit untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan justru menjadi parasit bagi orang-orang terdekatnya.
Manusia mempunyai 5 tingkat kebutuhan dalam hidupnya, dari tingkat yang paling rendah yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa Aman, kebutuhan Sosial, kebutuhan akan Harga Diri, dan yang paling tinggi adalah kebutuhan Aktualisasi Diri.
Seseorang bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk sekedar bisa makan setiap hari, bisa mencicil kredit rumah, kredit motor, koperasi kantor, bayar listrik dan telepon. Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipenuhi dengan pemilikan uang yaitu dengan bekerja. Bekerja membuat kita menghargai hidup. Tanpa bekerja , akan sulit untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan justru menjadi parasit bagi orang-orang terdekatnya.
Lalu bagaimana dengan orang yang telah mempunyai harta atau warisan yang mencukupi tujuh keturunannya atau berhasil dalam bisnisnya di masyarakat ? Kebutuhan fisiologis barangkali-mungkin tidak lagi menjadi motivasi dalam bekerjanya. Dampaknya yang sering terjadi adalah semangat kerja menurun, loyalitas berkurang, kedisiplinan kendor dsb. Karena merasa ada sesuatu yang bisa disombongkan atau dibanggakan yaitu rasa aman secara financial (kebutuhan harga diri ), tidak was-was, khawatir, atau takut terkena gusuran (PHK).
Mencari prestise memang penting. Namun tidak semua orang bisa mendapatkan pretise yang tinggi. Karena apapun pekerjaan kita saat ini (baca : profesi guru), yang terpenting adalah memaknai pekerjaan itu sendiri. Jika kita larut terbawa arus mencari pekerjaan, ambisi mengejar jabatan yang mempunyai prestise tinggi (baca: gaji besar), tetapi tidak mempertimbangkan secara mendalam kemampuan diri dan alasan memilih pekerjaan itu, yang terjadi adalah kita tidak bisa menikmati pekerjaan baru itu . Banyak pula yang melakukan pekerjaan tanpa memandang prestise pekerjaan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan bathiniah, yang dirasakan lebih penting dari pada prestise ( seperti yang diyakini saat ini oleh Bapak Ahmad Riway dari artikel yang pernah ditulisnya diblog ini ). Hal tersebut didasarkan kepada kecintaannya pada bidang yang ditekuninya sekarang ini (profesi guru ), sehingga tawaran demi tawaran dengan gaji berlipatpun beliau tolak, Mooh ! Dan mungkin harta bukan hal yang wah lagi bagi beliau. Aneh dan langka khan ? Makanya perlu untuk dilindungi dari ancaman kepunahan.
Kebahagiaan memang dapat dikatakan subyektif. Apa yang kita rasakan saat ini menurut kita membahagiakan, mungkin dinilai beda oleh orang lain. Banyak orang merasa bahwa hidup bahagia adalah hidup yang berkecukupan: rumah bagus, mobil mewah, tanah luas, usaha sukses. Sebagian lain merasa bahagia jika dapat menghantarkan anak-anaknya kuliah sukses di Perguruan Tinggi dan terbebas dari utang (hidup dari uang pensiunan). Amat sederhana, seorang gelandangan pun mungkin sudah merasa bahagia saat ia dapat membeli sebungkus nasi dan dapat kaplingan tidur malam hari di emperan toko. Kebahagiaan tidak melulu diukur dengan materi,namun tidak dapat dipungkiri bahwa materi berperan dalam menentukan kebahagiaan.
Lalu bagaimana dengan kawan kita yang migrasi ke institusi negara ? Kami ucapkan selamat, dan penghargaan atas keputusan tersulit yang telah diambil. Kami dapat memahami ada sesuatu yang berat sebenarnya untuk meninggalkan lembaga ini, tetapi karena ada kekuatan yang lebih besar lagi, maka keputusan yang tersulitpun menjadi pilihan terbaiknya. Kekuatan untuk mencari kepastian dari ketidakpastian, mencari ketenangan dari kebimbangan, mencari tantangan . . . . patut untuk kita hargai. Kita semua mengalaminya kondisi yang seperti ini, serba tidak menentu. Terkadang muncul kecemasan, kebimbangan, kebingungan, yang merupakan tantangan yang mau tidak mau harus kita hadapi bersama.
Kami yakin Kawan Kita yang migrasi bukan karena materi ? Bicara financial sifatnya Subyektif. Intinya adalah mencari kepastian (jaminan) dan motivasinya adalah kebutuhan rasa aman, menurut Abraham Maslow di atas). Sekolah milik negara tentu akan terjamin kepastiannya, dan mengabdi menjadi Guru Anak Negri. Berbeda dengan Kita yang masih setia kepada lembaga ini yang merupakan Guru Anak Perusahaan dan bukan Guru Anak Negri. Karena di perusahaan besar inilah anak perusahaan dilahirkan untuk memanjakan karyawan : Mendidik, membimbing, memintarkan, memanusiakan manusia hingga menjadi manusia yang berguna bagi orangtuanya, berhasil bagi diri sendiri (kebutuhan akan harga diri), dan sukses di masyarakat menjadi orang terpandang (prestise – aktualisasi diri ). Kita para guru dengan pengabdian panjang ( sewindu, dwi windu, tri windu, sampai ada yang ajal tiba saat pengabdiannya, dan pensiun ) setia tanpa mengenal lelah sampai tak terasa rambut beruban, gigi berkurang, mata remang-remang, meninggalkan kedua orangtua jauh di kampung halaman : hanya untuk mengabdi, berbakti sampai purna bakti untuk anak perusahaan (lembaga ini ) yang telah menyangga Kami (para guru ) sehingga kebutuhan fisiologis kami tercukupi , kebutuhan sosial kami terlayani, kebutuhan harga diri kami termanfaatkan, dan kebutuhan aktualisasi diri kami tersalurkan.
Bertahun-tahun lamanya ( 26 tahun ) kebutuhan rasa aman kita banggakan, yang berbuah pada kenyamanan. Dan kini seakan kita tergagap, seakan bangun dari mimpi panjang. Seakan tidak percaya, hilang kepercayaan, timbul kebimbangan, dan akhirnya hanya bisa diam- pasrah untuk menunggu kenyataan untuk 5 tahun mendatang. Kita berharap mudah-mudahan kebimbangan itu cepat berlalu, sehingga tidak ada lagi kawan yang migrasi menjadi Guru Anak Negri. Kekuatan kami hanya pada kebanggaan diri memelihara profesi ( kebutuhan akan harga diri) , memelihara kekompakan (kebutuhan sosial), pertahankan loyalitas pada lembaga (kebutuhan aktualisasi diri), optimisme (kebutuhan rasa aman), membuang jauh kebimbangan ( kebutuhan fisiologis). Berusaha untuk yakinkan diri , menghibur diri..” Optimisme. Dan berharap Guru Anak Perusahaan ini tetaplah menjadi yang terbaik, pilihan Kita mengabdi, pilihan Kita bersandar, pilihan Kita mencari Kemuliaan (pahala), hingga Kita tetap bangga sampai pensiun tiba. Amin.
SUPRIHOUYA..
Hai semua
Dengan segala kerendahan hati, anak muda ini ingin mengatakan sesuatu kepada layak ramai penghuni Yayasan Pupuk Kaltim tercinta. Saudaraku yang aku cintai... kenanglah bahwa kita dulu ke bontang dengan sukacita dan harapan yang besar bahwa kita akan mendapatkan kehidupan yang layak di sini. Ingatkah saudaraku bahwa mungkin di antara banyak karyawan YPK ada yang baru pertama kali naik pesawat (mungkin semuanya) ingatlah betapa kita bangga saat itu? dan sampai di ypk uang transport juga dikembalikan, lalu kita mulai bekerja denga semangat yang luar biasa, bahkan kalau perlu jam kerja itu di tambah lagi (itulah dulu).Dengan semangat kekeluargaan kita juga saling peduli antaa satu dengan lain, lihatlah sebuah pengalaman soarang teman yang kehujanan di jalan lalu nelon teman yang lain untuk dijemput pakai mobilnya, lalu dijemput dengan senang hati (tanpa ada kata2 menolak) saudaraku ingatlah itu semua. Saudaraku sekarang kita dihadapkan pada sebuah kondisi yang tidak seperti dulu lagi. Sekarang kita dihapakan pada tantangan yang kita tidak inginkan sebelumnya. Kondisi yang membuat banyak orang jadi lemah semangat, membuat orag jadi ingin "pindah" ke lain hati. Ini adalah gejala yang mestiny harus dilihat dengan hati yang tenang dan membutuhkan sebuah "amunisi" yang dapat membuat semangat kembali bergejolak dan loyalitas semangkin tinggi kepada lembaga ini. Amunisi ini ada banyak di antaranya :
1. Kemauan untuk berubah menjadi lebih baik
2. Kemauan untuk menggandeng karyawan dari manajemen
3. Kemauan untuk menjawab tantangan ke depan.
4. Kemauan untuk memberikan dan menjawab pertanyaan2 karyawan
5. Kemauan untuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mendudukkan wakilnya dalam manajemen
6. kemauan yang lain-lain...
Itu semua harus kita pikirkan wahai saudaraku (yang tidak paham silakan tanya pada penulis)
Hal lain yang harus "segera" dipikirkan adalah layanan kepada konsumen harus ditingkatkan dan ini adalah tugas semua penduduk YPK.
Banyak ide sebenarnya yang ada dalam pemikiran penulis, namun harus didiskusikan dengan banyak kalangan di ypk.
pier
1. Kemauan untuk berubah menjadi lebih baik
2. Kemauan untuk menggandeng karyawan dari manajemen
3. Kemauan untuk menjawab tantangan ke depan.
4. Kemauan untuk memberikan dan menjawab pertanyaan2 karyawan
5. Kemauan untuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mendudukkan wakilnya dalam manajemen
6. kemauan yang lain-lain...
Itu semua harus kita pikirkan wahai saudaraku (yang tidak paham silakan tanya pada penulis)
Hal lain yang harus "segera" dipikirkan adalah layanan kepada konsumen harus ditingkatkan dan ini adalah tugas semua penduduk YPK.
Banyak ide sebenarnya yang ada dalam pemikiran penulis, namun harus didiskusikan dengan banyak kalangan di ypk.
pier
Langganan:
Postingan (Atom)