Konco-koncoku kabeh,
Jare wong-wong ndik TV-TV, embong-embong, warung-warung, omah-omah saiki jamane jaman susah. Tapi iku khan jare. Jare wong-wong maneh! Sing jelas dudu jareku. Jareku saiki jaman sing paling penak sak joke uripku ndik alam donya. Gak penak yo opo, wong urip 23 tahun sak durunge kerjo dadi guru ndik YPK gak tau mangan sate saiki bosan mangan sate, mangan super mie ae baru semester 5 waktu kuliah ndik IKIP saiki wis bosan mangan mie. Opo yo percoyo sampean lek kuliahku 5 tahun mulai bayar pendaftaran UMPTN Rp 15.000,- sampe wisuda mbayar Rp 150.000,- bondho utangan, malah saiki iso nguliahno adik ndik Brawijaya. Gak percoyo khan?
Saiki mungkin akeh guru-guru koncone awake dhewe sing mulai kuatir yo opo nasibe ndik YPK. Ono sing ngomong jare YPK kate di kekno pemerintah, dikurangi jatahe, malah-malah ono sing ngomong jare YPK kate ditutup. Tapi iku cuma kulak jare dodol jare. Durung mesti nyoto benere. Kuatir kah sampean? Yo wajar. Cuma aku blas gak kuatir. Lek ono wong sing kuatir , kiro-kiro jalaran alasan-alasan ndik ngisor iki:
Kuatir ora iso mangan enak, ora iso nguliahno anak e, ora iso duwe omah apik.
Konco-koncoku kabeh ojo sampek sampean karo aku duwe pikiran nggladrah koyo ngene iki. Wong sing kuatir/ wedi ora iso mangan iku podho karo wong sing gak yakin lek Gusti Alloh iku Dzat Sing Moho Loman, Welas Asih, tur Gak Mentoloan Marang Makhluk e. Nganggep remeh nang Gusti Alloh. Gak trimo Gusti Alloh, Rek! Gak mungkin (mokhal) lek Gusti Alloh ngejarno sampean sampek gak mangan. Wis tah, Gusti Alloh mesti maringi rejeki sing akeh tur gak di songko-songko. Monyet-monyet ndik jln Burangrang ae ora tau kekurangan mangan meski gak tau sekolah, opo maneh awak e dhewe sing SPd lan MPd.
Bahaya sing nomer 2, ojo sampek sampean karo aku nganggep lek YPK iku sing ngurip i awak e dhewe. Lek sampean nganggep YPK, PKT, Pemkot sing nguripi utawa gawe enake urip e awak e dhewe. BAHAYA POOOOL. Yo iku sing diarani SYIRIK. Syirik iku dudu diba'an, tahlilan, wiridan, sholawatan, pujian, lan liyo-liyane. Lek sampean nganggep duwit sing gawe penak urip sampean, obat sing marasno loro sampean, komputer sing gawe nyugihno urip sampean, opo maneh sampek nyembah YPK, nyembah PKT, nyembah Pemkot, yo iku sing diarani syirik.
Konco-koncoku kabeh,
Ngadepi kelahirane YPK sing kaping 26, awak e dhewe mesti yakin lek YPK bakal tambah apik ing tembe ngarep. Sing mesti sampean karo aku tetep kudu nglakoni: ngajar sing temenan, sing apik,ndadekno murid-murid sing bodho dadi pinter, sing bekasaan dadi sopan, sing nyontek an dadi jujur. Cukup! Gak usah mikirno pirang milyar dana e YPK teko PKT. La opo awak e dhewe mikir no barang sing mesti dadi penggaweane wong liyo. Gawe soal Try Out ae sing apik, gawe perangkat multi media ae sing canggih, gawe soal ulangan blok terus dites no nang murid. Cukup!
Sampean aku dongakno dadi guru sing ikhlas, sing syukur ndik akhir pengabdiane dadi guru, lan mesem utowo ngguyu waktu mbalik nang kersane Sing Gawe Urip. Mugo-mugo!
Achmad/Abu Muhammad
Kami adalah
- PEACE YPK
- kami adalah pengabdi pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kamis, 12 Februari 2009
Buruan... MULTIMEDIA sebentar lagi lho...

Batas akhir pengumpulan karya Jumat, 20 Februari 2009 tet'! Gak boleh lewat!
Buruan selesaiin karya sampeyan, dan segera kirim ke Pak Supra SD-1 (081347450778) atau Pak Malik SMA (081347072620), jangan lupa lampirkan formulir pendaftaran (ambil di panitia).
Sampaikan info ini ke seluruh rekan di unit masing-masing, trm's.

Panitia,
Supra
Rabu, 11 Februari 2009
selamat lagi.....
Diucapkan selamat kepada guru ypk yang lolos PNS Bontang pengalihan 2008
1. Sugianto (Ex Manager ETC)
2. Miftahul SD 1
3. Apridita Ryan SMP
4. Maryamah SMA
5. Dina Masak SD
6. Nining SD
semoga sukses dan barokah di tempat yang baru.... AMIN.......
Hendry SMA
1. Sugianto (Ex Manager ETC)
2. Miftahul SD 1
3. Apridita Ryan SMP
4. Maryamah SMA
5. Dina Masak SD
6. Nining SD
semoga sukses dan barokah di tempat yang baru.... AMIN.......
Hendry SMA
Senin, 09 Februari 2009
Gaya Demokratis itu Menggairahkan
(Kupersembahan di saat Ulang Tahun KITA yang ke-26).Kecerdasan berdemokrasi ala Obama pantas untuk dibanggakan . Banyak sekali kejutan tak terduga sebagai shock terapi ke-jenuh-an. Terpukau-takjub, dan terkadang geleng kepala-bangga. Itu padahal ada di negeri Amerika. Bandingkan dengan Politisi di negri kita yang hebat dalam janji doang,ke-bohong-an, ke-ribet-an, ke-kisruh-an, dan ke-nekat-an.
Yang dapat kita petik hikmahnya dari peristiwa Mas Obama adalah hebatnya beliau menggali-mengoptimalkan kekuatan baru, semangat baru, pemikiran baru, paradigma baru dan sejenisnya. Aplikasinya untuk kita adalah terbentuknya asosiasi guru sebagai penggalangan, meningkatkan semangat kebersamaan, kekompakan, proaktif, dan mentradisikan diri dalam “BERBURU MASUKAN”, mendengarkan isu-isu terkini, bersatu mempelajari tantangan, berinovasi, dan bahkan harus berani berspekulasi menerobos tradisi (sistem lama), meminimalkan kekurangan, ke-bosan-an, dan kekawatiran yang berubah menjadi Optimesme.
Yang dapat kita petik hikmahnya dari peristiwa Mas Obama adalah hebatnya beliau menggali-mengoptimalkan kekuatan baru, semangat baru, pemikiran baru, paradigma baru dan sejenisnya. Aplikasinya untuk kita adalah terbentuknya asosiasi guru sebagai penggalangan, meningkatkan semangat kebersamaan, kekompakan, proaktif, dan mentradisikan diri dalam “BERBURU MASUKAN”, mendengarkan isu-isu terkini, bersatu mempelajari tantangan, berinovasi, dan bahkan harus berani berspekulasi menerobos tradisi (sistem lama), meminimalkan kekurangan, ke-bosan-an, dan kekawatiran yang berubah menjadi Optimesme.
Unit kerja ibarat sebuah keluarga besar yang tidak pernah meng- indah-kan KB. Sedangkan unit kerja lain ibarat keluarga besar dari keturunan ayah atau ibu. Lazimnya, Bapak menjadi kepala keluarga,dan ibu sebagai wakilnya rumah tangga, kakak dan adik sebagai anak-anaknya. Sedangkan Kakek dan nenek sebagai figur yang harus dihormati, diteladani, didengarkan petuahnya, dilaksanakan perintahnya, tidak boleh membantah, harus berlaku sopan, patuh, dan tunduk. Tradisi ketimuran memang harus benar-benar dijunjung tinggi .
Dibawah ini merupakan ilustrasi gaya kepemimpinan orangtua Kita :
1. Keluarga yang Demokratis :
Dalam memutuskan suatu persoalan, misalnya ingin membeli baju, mobil, pindah rumah, daftar kuliah, pembagian tugas rumah sampai pada hal-hal yang kecil, sepele yang dianggap orang lain mungkin bikin ke-ribet-an. Bagi keluarga yang Demokratis akan selalu memusyawarahkan segala persoalan kepada seluruh anggota keluarga mulai dari ibu, kakak, adik, bahkan sampai melibatkan pembantu rumah tangganya. Kakek dan nenekpun terkadang dihadirkan untuk meminta pertimbangan, petunjuk, dan do’a restunya. Sang Bapak sebagai BOSnya keluarga mencari mufakat untuk memutuskan persoalan secara bijak, santun, bermartabat, dan penuh keterbukaan untuk BERBURU MASUKAN ( feedback). Kita semua paham feedback tidak mengenal pangkat atau jabatan, tua atau muda, kaya atau miskin. Masukan Top Manajemen bisa sama harganya dengan masukan dari para tukang sapu jalanan. Itulah hebatnya feedback untuk menuju semangat kemajuan, mencari pembuktian diri bahwa memang kita (baca: lembaga) yang terbaik ! Kalau perlu mari kita membuat mereka menyesal (baca : orangtua yang memindahkan anaknya di lembaga ini). Betapa Basi-nya Kita di jaman sekarang ini masih bersikap keras kepala, merasa hebat, dan tidak mau menerima feedback (Kompas,13 Des.2008)
2. Keluarga yang Otoriter :
Sebaliknya keluarga yang Otoriter cenderung memaksakan diri dalam memutuskan sesuatu, tidak mengenal musyawarah, alergi feedback, merasa benar sendiri, paling hebat, keputusan mutlak pada orangtua, anak dianggapnya tidak tahu apa-apa, mungkin juga dianggapnya bodoh. Anak harus mengikuti perintah orangtua, orangtua bilang A harus A. Semuanya serba titik, tidak ada koma apalagi tanda tanya. Alangkah sedihnya keluarga seperti ini, anak dijadikan robot, korban ke-angkuh-an orangtua, kekecewaan terpendam- anak hanya berani mengumpat-mencaci maki dari belakang. Dampaknya lingkungan keluarga tidak nyaman, jauh dari kondusif, hidup tanpa roh (baca: dingin, beku-membatu dan, gersang), dan seakan orangtua ingin menggali kuburannya sendiri (kegagalan).
3. Keluarga yang Permissif :
Berbeda lagi dengan keluarga yang Permissif (membebaskan), orangtua serba membolehkan, menuruti semua kehendak-keinginan, bahkan kata hati anak. Dampaknya anak tidak mengenal benar atau salah, tidak mengenal disiplin, sopan santun, dan kecenderungan menjadi anak yang manja, pemalas, masa bodoh,egois, keras kepala, dan yang paling gawat akan tumbuh kepribadian anak yang negatif : anarkis, vandalisme, dan premanisme.
Dari ketiga figur gaya kepemimpinan orangtua Kita diatas, yaitu : Demokratis, Otoriter, dan Permissif, tentu Kita selalu berharap “Orangtua Kita, Nenek dan Kakek Kita ”, dari keluarga besar ini lebih mengedepankan gaya kepemimpinan yang Demokratis. Aplikasinya mulai dari yang paling ringan dengan mentradisikan diri berburu Masukan, banyak mendengarkan bawahan untuk mendapatkan fakta, menggali potensi, dermawan dalam memberikan dorongan, sampai pada penunjukan tahta- mandat pimpinan/wakil keluarga (baca unit kerja) yang masih seperti judul lagu, ter-tutup, ter-sembunyi, ter-sungkan, ter-batas dan misterius.
Pikiran Kita mempunyai keterbatasan, dan disinilah perlunya Kita membutuhkan (berburu) masukan-pendapat orang lain, menemukan solusi yang terkadang tidak pernah terpikirkan dalam hati kita. Pada akhirnya diharapkan para Orangtua Kita, Nenek, dan Kakek Kita dapat mengambil- memutuskan kebijakan yang lebih Realistis, Cerdas, dan Profesional.
Jadi menurut penulis: “Gaya Demokratis itu memang Menggairahkan.”
Bisa membuat kita bersemangat dalam berselancar mengaruhi samodra keindahan.
Bagaimana menurut Anda ?
Artikel ini kupersembahkan kepada Yth.
Kakek dan Nenekku, Bapak dan Ibuku, Paman dan Bibiku, Kakak-kakakku, adik-adikku, sahabatku . . yang sedang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke- 26 .
Semoga tetap Bergairah, Bersemangat – Antusias, Optimis, dan selalu menjaga Loyalitas dalam menunaikan tugas-tugasnya sebagai pengabdi pendidikan.
Mari Kita Buktikan
Kitalah yang Terbaik !
SUPRIHOU SD. KITA.
Minggu, 08 Februari 2009
Sudahkah kita memiliki pemimpin dari masa depan?
Stand By Me. Ini adalah sebuah judul lagu yang menjadi topik dari Mario Teguh, Golden Ways (MTGW), sebuah acara TV yang memberikan inspirasi kepada siapa saja yang mau berubah untuk maju. Meski agak terlambat, tetapi sore itu tidak berarti saya tidak mendapatkan apapun karena hampir di setiap detik, setiap menit acara ini penuh dengan pelajaran dan makna yang berguna bagi peningkatan kemampan dan kualitas kita sebagai manusia. Satu poin yang sempat menjadi perenungan saya adalah ketika MT membahas tentang bagaimana kita memilih pemimpin. Pilihlah selalu pemimpin dari masa depan, bukan pemimpin yang berasal dari masa lalu.
Pernyataan tersebut memiliki makna ganda, fisik dan esensi. Secara fisik, pemimpin haruslah yang muda, enerjik, suka perubahan, terbuka. Banyak dari kita yang masih mengidentikkan muda dengan tidak berpengalaman atau kurang mampu. Tetapi, menurut saya, bukankah banyak orang yang sudah tua, sudah senior,dan banyak pengalaman tidak mampu memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin? Namun banyak pula orang-orang muda yang menyadari dan mampu memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin, mampu mengkolaborasikan berbagai kemampuan bawahannya untuk mewujudkan goal. Anda akan memilih yang mana: senior, hebat, tetapi tidak punya potongan menjadi pemimpin atau muda, enerjik, dan mampu bekerja sama dan mengkolaborasikan potensi untuk mencapai tujuan organisasi? Orang muda identik dengan enerjik yang sangat diperlukan dalam memberikan kekuatan dalam organisasi. Muda juga diidentikkan dengan instabilitas, anti kemapanan. Bukankah itu merugikan? Jawabnya adalah tidak, justru anti kemapanan adalah kunci kemajuan organisasi. Bukankah banyak muncul pemimpin-pemimpin hebat karena mereka tidak puas dengan apa yang terjadi pada jamannya?
Secara esensi adalah bahwa kita harus memilih pemimpin yang visioner, tua atau muda dalam usia bukanlah masalah. Pemimpin harus memiliki pandangan atau cita-cita yang jelas tentang masa depan,bukan pemimpin yang selalu dibayangi oleh cerita-cerita keberhasilan masa lalu yang mungkin tidak lagi sesuai dengan masa kini. Masa lalu adalah pelajaran, bukan sesuatu yang akan diterapkan di masa depan. Pemimpin harus berperilaku sebagai pemimpin, bukan hanya mampu.
Bagaimana dengan organisasi kita? Apakah pemimpin kita berasal dari masa depan ataukah peninggalan dari masa lalu? Tentu kita dapat menilainya dengan sangat gampang.
Gix, ETC
Pernyataan tersebut memiliki makna ganda, fisik dan esensi. Secara fisik, pemimpin haruslah yang muda, enerjik, suka perubahan, terbuka. Banyak dari kita yang masih mengidentikkan muda dengan tidak berpengalaman atau kurang mampu. Tetapi, menurut saya, bukankah banyak orang yang sudah tua, sudah senior,dan banyak pengalaman tidak mampu memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin? Namun banyak pula orang-orang muda yang menyadari dan mampu memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin, mampu mengkolaborasikan berbagai kemampuan bawahannya untuk mewujudkan goal. Anda akan memilih yang mana: senior, hebat, tetapi tidak punya potongan menjadi pemimpin atau muda, enerjik, dan mampu bekerja sama dan mengkolaborasikan potensi untuk mencapai tujuan organisasi? Orang muda identik dengan enerjik yang sangat diperlukan dalam memberikan kekuatan dalam organisasi. Muda juga diidentikkan dengan instabilitas, anti kemapanan. Bukankah itu merugikan? Jawabnya adalah tidak, justru anti kemapanan adalah kunci kemajuan organisasi. Bukankah banyak muncul pemimpin-pemimpin hebat karena mereka tidak puas dengan apa yang terjadi pada jamannya?
Secara esensi adalah bahwa kita harus memilih pemimpin yang visioner, tua atau muda dalam usia bukanlah masalah. Pemimpin harus memiliki pandangan atau cita-cita yang jelas tentang masa depan,bukan pemimpin yang selalu dibayangi oleh cerita-cerita keberhasilan masa lalu yang mungkin tidak lagi sesuai dengan masa kini. Masa lalu adalah pelajaran, bukan sesuatu yang akan diterapkan di masa depan. Pemimpin harus berperilaku sebagai pemimpin, bukan hanya mampu.
Bagaimana dengan organisasi kita? Apakah pemimpin kita berasal dari masa depan ataukah peninggalan dari masa lalu? Tentu kita dapat menilainya dengan sangat gampang.
Gix, ETC
Langganan:
Postingan (Atom)